Kisah Jenazah yang 3 Hari Tak Ketahuan, Meski Serumah dengan Sang Ibu

Kisah Jenazah yang 3 Hari Tak Ketahuan, Meski Serumah dengan Sang Ibu

KOMPASCOM – Area tamu tempat ditemukannya jasad Sudadi masih dibersihkan pihak keluarga. Karpet tempat jenazah pria 44 tahun selanjutnya udah dimasukkan ke dalam sebuah kantung besar, meski bau menyengat masih tercium sesekali.

Dadi, begitu Sudadi biasa disapa, tinggal bersama dengan sang ibu, Murtini (75), yang mengalami kelumpuhan akibat pengeroposan tulang. Akan tapi sang ibu tak tahu jikalau anaknya udah tergeletak tak bernyawa di ruang tamu rumahnya sepanjang 3 hari, sebelum saat kelanjutannya ditemukan warga terhadap Rabu (3/7). DEPOSIT VIA OVO

Padahal, hari Minggu (30/6), Dadi masih terlihat di sekitar rumahnya. Namun di hari Selasa (2/7), tetangga Sudadi mencium bau menyengat dan mulai mencurigai ada hal yang tak beres.

Saat bau makin lama menyengat, warga dan tetangga kurang lebih mengupayakan memasuki tempat tinggal Dadi. Namun waktu itu semua pintu tempat tinggal dikunci dari dalam.

Pintu depan dikunci, pintu belakang juga. Akhirnya naik ke atas, di atas juga dikunci. Akhirnya kami dobrak, kebuka kami turun kebawah tuh. Pas di ruang tamu itu (tangan Dadi) udah kelihatan. Ini kan tembok nih, keliatan tangan begini, dia (warga) udah kaget begitu. Posisi udah telentang berdarah-darah,” jelasnya. POKER PULSA

Sepengetahuan Alex, Murtini tak pernah memahami kalau sang anak udah meninggal selama lebih dari satu hari. Sehari-hari, Murtini cuma mampu terbaring di area tidur sebab mengalami kelumpuhan. Meski mengalami kelumpuhan, Murtini tetap mampu berinteraksi dengan normal.

“Kalau ibunya masih, tetap mampu dengar mirip ngobrol,” memahami Alex. POKER SYAHRIAH 

Sementara, Hasan yang merupakan kakak kandung Sudadi mengatakan, tidak menghendaki memahami penyebab kematian adiknya. Ia merelakan kepergian Dadi sebagai sebuah takdir, supaya tak harus diperpanjang.

Saya enggak nanya polisi (apa penyebab). Enggak, kalau saya ngasih memahami penyebab kematiannya, itu autopsi dalem. Kalau autopsi dalem itu ribet lagi. Belum nanti pertanyaannya lebih detail lagi, ribet,” kata Hasan.

Usai kejadian tersebut, Hasan memperhitungkan untuk membawa sang ibunda tinggal bersama keluarganya di tempat Kuningan, Jawa Barat. Menurutnya lebih baik membawa sang ibu ketimbang membawa keluarganya tinggal di Jakarta. SITUS POKER GOPAY

“Masalahnya anak istri aku di kampung, di tempat kuningan. Jadi kayaknya lebih mudah mindahin ibu ke kampung dibanding mindahin sekeluarga ke sini. Kan kalau ibu tinggal bawa, sampai. Kalau anak apalagi yang sekolah, (harus mengurusi) dokumen ini- itu,” kata Hasan.

Jenazah Sudadi sudah dikubur di pemakaman tanah wakaf TVRI, Rabu (3/7) malam. Sedangkan Hasan untuk kala tetap tinggal di rumah Sudadi menemani sang ibu yang tidak dapat bergerak mirip sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *