Chron’s Disease, Penyakit Radang Usus Serupa Kanker

Penyakit Radang Usus Serupa Kanker

KompasNews –¬†Nama penyakit Crohn’s Disease tak banyak terdengar. Di Indonesia, penyakit ini lebih dikenal dengan radang usus. Penyakit ini patut diwaspadai karena memiliki sifat yang tak bisa dikontrol sama seperti kanker.

Meski dikenal dengan nama radang usus, Crohn’s Disease dapat terjadi pada seluruh lapisan dinding sistem pencernaan dari mulut hingga anus. Namun, pada kebanyakan kasus, 70 persen penyakit ini menyerang bagian usus kecil, tepatnya pada bagian ileum (usus penyerapan) dan usus besar (kolon). Masih belum diketahui penyebab pasti dari penyakit ini. Hanya saja, beberapa faktor diyakini memengaruhi munculnya penyakit radang usus ini.

Biasanya disebabkan oleh beberapa faktor seperti keturunan, gangguan sistem kekebalan tubuh, merokok, dan riwayat infeksi,” kata peneliti Crohn’s Disease, Sasza Chyntara Nabilla saat memaparkan studinya mengenai penyakit ini dalam diskusi Oxford Society of Indonesia di Universitas Atmajaya, Jakarta, Rabu (9/10).

Sasza merupakan mahasiswa program doktor dari Departement of Materials, University of Oxford yang meneliti material untuk memperpanjang usus bagi pasien Crohn pasca-pemotongan usus.

Penyakit ini diawali oleh bakteri yang masuk ke dalam dinding usus. Bakteri itu melawan sistem imun tubuh sehingga membentuk inflamasi atau peradangan. Inflamasi itu mengakibatkan terjadinya penebalan dinding sekitar 2-3 sentimeter dan membentuk benjolan berbentuk oval seperti batu kerikil.

Gejala yang timbul dari penyakit Crohn ini diantaranya meliputi merasakan sakit perut di bagian kanan, berat badan turun, demam, buang air besar berdarah (disebabkan oleh dinding usus yang rusak), sembelit dan kehilangan selera makan.

Chron’s Disease banyak ditemui di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa. Di Indonesia, relatif masih jarang ditemui.

Diperkirakan, sebanyak satu juta orang di dunia menderita penyakit Crohn. Sebanyak 70 persen di antaranya harus operasi pemotongan usus dan 39 persen pasien memerlukan operasi pemotongan usus lanjutan dalam kurun waktu 8-10 tahun.

“Penyakit ini sifatnya tidak dapat dikontrol dan mirip seperti penyakit kanker. Meskipun sudah operasi pemotongan usus, biasanya akan datang lagi sehingga pasien harus operasi terus menerus dan usus akan memendek. Ini sangat berbahaya,” tutur Sasza.

Sumber : cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *