Kedua Korban Tsunami Masih Mendapatkan Rawatan di RSUD Bandarlampung

Dua korban terdampak tsunami Selat Sunda, Lita dan Madsari, masih dirawat secara intensif di RSUD Dr H Abdul Moeloek (AM) Bandarlampung hingga hari ini, Senin (7/1).

Lita, gadis kecil berusia 11 tahun yang tinggal di Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu korban selamat dari gelombang tsunami yang terjadi pada Sabtu, 22 Desember 2018. BONUS TRIPLE JACKPOT

Meski selamat, Lita harus dirujuk ke RSUD AM Bandarlampung untuk menjalani operasi craniotomi (bagian kepala).

“Sebelumnya saya sempat mendapatkan perawatan selama dua hari di RSUD Bob Bazar di Kalianda, Lampung Selatan,” kata Lita seperti dilaporkan Antara.

Sedangkan Madsari, wanita berusia 55 tahun yang tinggal di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan juga merupakan korban tsunami yang selamat dan masih dirawat di RSUD AM Bandarlampung.

Pada saat kejadian, Madsari mengaku sudah berusaha untuk menyelamatkan diri saat gelombang tsunami menghempas rumahnya. Namun, saat ingin keluar rumah, kakinya tertimpa reruntuhan bangunan.

“Akibat tsunami, kaki saya mengalami luka parah, sehingga harus diamputasi,” kata Madsari.

Selain itu, ia juga kehilangan rumah dan harta benda akibat dihempas gelombang tsunami Selat Sunda.

Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan masa tanggap darurat di Lampung Selatan diperpanjang. Sementara wilayah Pandeglang, Banten tengah masuk masa transisi darurat pascatsunami Selat Sunda.

“Masa tanggap darurat di Kabupaten Lampung Selatan diperpanjang selama dua pekan, yaitu 6 Januari hingga 19 Januari 2019,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (6/1).

Korban tsunami di Lampung Selatan tercatat 120 orang meninggal dunia, 8.304 orang luka, dan 6.999 orang mengungsi. Sebanyak 543 rumah rusak berat, 70 rumah rusak sedang dan 97 rumah rusak ringan.

Namun, sesuai kesepakatan dan rapat koordinasi, diputuskan tidak ada pembangunan hunian sementara (huntara) di Lampung Selatan melainkan pembangunan hunian tetap (huntap) untuk relokasi. Sudah tersedia lahan seluas 2 hektare untuk pembangunan huntap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *