Pembunuhan Sadis Dua Perempuan Backpacker oleh ISIS Kejutkan Maroko

Dua Perempuan Backpacker oleh ISIS Kejutkan Maroko

KompasCom –¬†Ratusan warga Maroko membawa karangan bunga dan poster belasungkawa ke depan Kedutaan Besar Norwegia dan Swedia di Rabat. Sepekan sebelumnya, dua orang backpacker perempuan asal Eropa tewas mengenaskan, dibunuh dengan sadis oleh para pengikut ISIS.

“RIP Maren dan Louisa”, “Terorisme tidak punya agama atau kebangsaan”, dan “maaf” adalah bunyi poster-poster yang dibawa warga Rabat pada Sabtu (22/12) itu. Mereka mengaku terpukul dan malu atas pembunuhan Louisa Vesterager Jespersen, 24, warga Swedia, dan kawannya Maren Ueland, 28, dari Norwegia di negara mereka.

Jasad keduanya ditemukan di wilayah selatan desa Imlil, kaki gunung Toubkal. Di tubuh mereka terdapat luka-luka benda tajam. Salah satu dari korban ditemukan terpenggal kepalanya. Pada Jumat, jasad keduanya diterbangkan dari Kasablanka ke Kopenhagen. Deposit Via Pulsa

Penemuan jasad keduanya adalah hal yang memilukan. Peristiwa ini semakin biadab ketika pembunuhan tersebut direkam kamera dan disebar di media sosial, salah satunya diterima ibunda Ueland. 

Dalam video tersebut, terlihat pelaku menyiksa dan membunuh lalu memenggal korban. Polisi memastikan itu adalah video asli. “Sejauh ini, tidak ada bukti konkret yang menunjukkan video ini bukan asli,” ujar pernyataan Badan Investigasi Kriminal Nasional Norwegia.
Sebanyak 13 orang tersangka ditangkap dalam penyelidikan kasus ini dalam beberapa hari terakhir. Polisi Maroko mengatakan, beberapa di antara tersangka pernah terekam berbaiat kepada ISIS. Kasus ini kemudian masuk dalam kategori tindak terorisme.

Backpacker oleh ISIS Kejutkan Maroko
Beberapa barang bukti ditemukan, di antaranya beberapa pisau, seragam militer, dan benda-benda yang diduga material peledak.
Menurut keluarga korban, kedua perempuan pecinta alam itu hendak berlibur selama satu bulan di Maroko sejak 9 Desember. Rencananya, mereka akan menghabiskan Natal dengan berkemah di gunung Toubkal, puncak tertinggi di Afrika Utara.

Sebelum berangkat, Jespersen sempat menginformasikan rencananya ke Maroko di Facebook pada November. “Kawan-kawan, saya akan ke Maroko pada Desember. Adakah dari kalian di wilayah itu atau punya kawan yang tahu sesuatu tentang Toubkal?” tulis dia.
Seorang pemandu wisata di Toubkal, Rachid Imerhade, mengaku sempat melihat kedua korban sebelum mereka mendaki. “Mereka selalu tersenyum, ramah dan suka ngobrol. Mereka berbicara dengan orang-orang di sekitar,” kata Imerhade.

Penyelidikan masih terus dilakukan. Perdana Menteri Maroko Saad Eddine El Othmani mengatakan kasus ini adalah pukulan telak bagi negara mereka.
Pembunuhan Jespersen dan Ueland diperkirakan akan berdampak pada pariwisata Maroko, salah satu sektor penyumbang terbesar bagi perekonomian. Sebelumnya, dibandingkan negara Afrika Utara lainnya, Maroko dianggap paling aman.
Peristiwa kali ini sangat mengejutkan, karena serangan teroris terakhir di Maroko terjadi pada April 2011 lalu ketika militan meledakkan restoran di Marrakesh, menewaskan 17 orang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *