Buat Berita Palsu, Jurnalis Der Spiegel Jerman Kembalikan Penghargaan

Jurnalis Der Spiegel Jerman Kembalikan Penghargaan

KompasNews – Majalah kenamaan Jerman Der Spiegel memecat jurnalisnya karena ketahuan merekayasa berita palsu selama bertahun-tahun. Melalui situs resminya, Der Spiegel menyebut jurnalis yang bernama Class Relotius itu sebagai pembohong.

“Kebenaran dan kebohongan bercampur dalam tulisannya,” tulis Der Spiegel di situs resminya, dikutip dari Reuters, Sabtu (22/12). Bonus Jackpot 3x

Ironisnya, Relotius bukan jurnalis sembarangan. Ia adalah penerima penghargaan pers yang bergengsi di Jerman. Lelaki berusi 33 tahun itu akhirnya mengakui kesalahannya dan memilih untuk mengembalikan empat penghargaan pers yang pernah diterimannya.

Dikutip dari The Guardian, Sabtu (22/12), Relotius menolak untuk dihubungi oleh rekan-rekannya. Ia memilih untuk mengirimkan pesan ke penyelenggara perhagaan pers Jerman untuk meminta maaf dan menyatakan akan mengembalikan penghargaannya.

Jurnalis Der Spiegel Jerman Kembalikan Penghargaan
Jurnalis Der Spiegel Jerman Kembalikan Penghargaan

Menurut Steffen Klusmann, editor di Der Spiegel, setidaknya terdapat 14 artikel palsu yang ditulis Relotius.

Salah satunya ialah tulisannya tentang seorang anak di tengah perang Suriah yang memenangkan sebuah penghargaan. Relotius diduga mewawancarai anak tersebut melalui aplikasi WhatsApp.
“Dia adalah bintang di jurnalisme Jerman jika berlaku jujur dan ceritanya benar, tetapi ternyata tidak,” ujar Juan Moreno, kolega Relotius di Der Spiegel, dikutip dari The Guardian, Sabtu (22/12)
Ia mengungkapkan, banyak orang yang bertanya apakah ada tekanan dari Der Spiegel untuk mendapatkan berita-berita terbaik. Bonus New Member 

“Ya, ada tekanan untuk memberikan materi yang terbaik, tetapi di atas semua itu ada kewajiban bahwa (berita) itu benar, demi Tuhan” sebutnya.
Selain mengenai perang Suriah, tulisan palsu jurnalis yang sejak tahun 2011 menulis untuk Der Spiegel itu antara lain artikel tentang narapidana di tahanan Guantanamo, AS, tentang anak-anak yang diculik oleh ISIS, serta tentang seorang wanita yang menghadiri eksekusi hukuman mati sebagai saksi di Amerika serikat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *