Menyesap Ribuan Cangkir Kopi Daun Kawa Batusangkar

Cangkir Kopi Daun Kawa Batusangkar

KompasCom –¬†Kopi adalah satu hal yang tak bisa dilepaskan dari rutinitas orang Indonesia. Ibarat kata, hidup belum lengkap tanpa menyeruput kopi terlebih dulu.

‘Tradisi’ ini pula yang membuat ribuan orang Indonesia rela mengantre untuk menikmati secangkir kopi dari biji kopi Java di Batusangkar, Sumatera. Mereka berharap bisa melestarikan tradisi minum kopi yang sudah dimulai sejak zaman kolonial tersebut. Deposit Via Pulsa

“Semuanya, siapkan cangkir Anda!” teriak pembawa acara pada 4.000 warga lokal dan pengunjung yang menyesap kopi daun kawa di festival kopi daun kawa di Batusangkar, Sumatera, dikutip dari AFP.

Saya gembira bisa mencapai 4.000 cangkir kopi. Ini rekor lokal baru,” kata Abdul Hakim, kepala kantor pariwisata lokal.

Meski demikian, angka itu tak cukup untuk mengalahkan rekor nasional tahun lalu yang mencapai 1,9 juta orang. Saat itu, 1,9 juta orang menyesap secangkir kopi yang dibuat seperti biasa.

Menyesap Ribuan Cangkir Kopi Daun Kawa Batusangkar
Menyesap Ribuan Cangkir Kopi Daun Kawa Batusangkar

Kompetisi minum kopi ini merupakan bagian dari festival seni dan budaya Minangkabau yang digelar selama lima hari. Festival ini termasuk upacara kuliner yang disebut sebagai bajamba.

Batusangkar sendiri merupakan ‘rumah’ asli dari kopi daun kawa yang terkenal itu. Dengan kopi jenis ini, mereka membuat kopi dari daun tanamannya dibanding dengan bijinya.

Ini adalah cara kuno untuk membuat kopi yang sudah dimulai sejak masa kolonial Belanda. Mengekstrak daun kawa menjadi kopi ini dilakukan untuk menyiasati sulitnya warga lokal zaman itu membeli biji kopi. Mereka pun merebus daun terbuang dan menyajikan minuman pahit itu dalam cangkir yang terbuat dari batok kelapa.

Tak jauh dari lokasi festival, kedai-kedai kopi sekitar juga menghadirkan suguhan kopi daun kawa ini. Deposit Judi Pulsa

“Ini baik untuk Anda dan bisa membuat tubuh jadi hangat,” kata Efrizon, seorang pria penyeruput kopi daun kawa di kedai lokal.

“Dan minumnya pakai batok kepala yang unik, bukan pakai gelas.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *