Jepang Sudah Rancang Kota Anti Tsunami

KOMPASCOM -Pada 11 Maret 2011, wilayah timur laut Jepang dilanda gempa dengan kekuatan 9 Magnitudo yang kemudian disusul dengan tsunami kurang dari satu jam setelah gempa terjadi. Tsunaminya sendiri memiliki tinggi hingga 39 meter dan bahkan menghancurkan dinding laut yang dibangun di beberapa wilayah di Jepang.

MERANCANG KOTA MASA DEPAN

Sebanyak 15.984 orang meninggal dunia dan lebih dari 2.500 orang dinyatakan hilang. Hingga 2017, 150.000 orang masih kehilangan rumah dan 120.000 bangunan hancur, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima. Kerugian akibat gempa dan tsunami ini disebut oleh Bank Dunia sebagai bencana alam yang menelan paling banyak kerugian di dunia.
Berkaca dari peristiwa tersebut, pemerintah Jepang tengah melakukan sejumlah upaya untuk mempersiapkan diri bila bencana dahsyat terjadi di kemudian hari. Hal ini dikonfirmasi oleh Hayakawa Jun, Technical Officer dari Ministry of Land, Infrastructure, Transport, and Tourism (MLIT) Jepang.

Jepang dilanda tsunami pada 2011, bencana itu sangat besar. Setelahnya, banyak proyek rekonstruksi dilakukan,” kata Jun dalam presentasi yang dilakukan di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, pada Jum’at(30/11).

“Kami melakukan counter-measure, persiapan menghadapi bencana, misalnya kami harus memikirkan untuk membangun tanggul laut, atau menara evakuasi tsunami, atau peringatan dini. Kita harus memikirkan banyak hal dan bencana bukan hanya tsunami, karena itu dalam masterplan kami, kami harus mempertimbangkan berbagai bencana.”

https://bit.ly/2AqZlzM
di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia,

Meski sudah memiliki sistem peringatan dini yang baik dan infrastruktur untuk mengurangi dampak bencana, namun tsunami 2011 lalu tetap mampu mengacak-acak Jepang. Oleh sebab itu, MLIT mengeluarkan tata cara pembangunan kota untuk mempersiapkan diri menghadapi tsunami berskala besar.

“Ada tiga peraturan. Yang pertama adalah mencegah meluasnya dampak tsunami, seperti dengan membangun tanggul laut untuk mencegah tsunami,” jelas Jun. Tapi, ia menegaskan, membangun infrastruktur anti tsunami saja tidak akan cukup untuk mencegah jatuhnya korban jiwa akibat bencana tersebut.

“Yang kedua sangat penting, bagaimana menyelamatkan diri dari tsunami,” kata Jun, sembari menambahkan kalau langkah kedua dilakukan dengan cara mempersiapkan zona untuk evakuasi, pengembangan sistem peringatan dini, dan juga mempersiapkan tatacara evakuasi.
“Yang ketiga menghindari daerah yang rawan tsunami,” tambah Jun.

3 Zona Kota Anti Tsunami

Rancangan tata kota yang siap menghadapi tsunami dari MLIT membagi kota yang berada dekat pantai menjadi tiga zona yaitu, merah, oranye, dan kuning.
Zona merah adalah zona yang paling dekat dengan pantai dan rawan tsunami. Meski begitu, bukan berarti zona merah tidak boleh ada bangunan.

Jun menjelaskan, bangunan di zona merah ini wajib mengikuti standar agar aman dari tsunami dan tinggi bangunannya harus melebihi tinggi ombak laut. Ketika terjadi tsunami, maka orang-orang sekitar dapat mengungsi ke bangunan tersebut.

Zona oranye adalah zona keamanan khusus. Di sini dibangun rumah sakit dan fasilitas lainnya yang juga harus mengikuti peraturan seperti di zona merah.
Zona kuning adalah zona tempat tinggal warga yang mungkin terkena tsunami. Oleh karena itu, di zona ini disiapkan fasilitas atau jalur evakuasi, pelatihan evakuasi, pemberian informasi bencana, dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *