Pembersihan pulau di Indonesia membersihkan 40 ton sampah

Kompascom Pembersihan pulau di Indonesia membersihkan 40 ton sampah. Penduduk di sejumlah pulau karang di lepas pantai Jakarta sedang berjuang melawan gelombang pasang sampah. Dengan lebih dari 40 ton sampah dikumpulkan setiap hari selama seminggu terakhir, kata seorang pejabat.

Pihak berwenang Indonesia telah mengerahkan pasukan staf dan satu armada kapal untuk membantu membersihkan garis pantai yang dipenuhi sampah dan perairan sekitarnya, menggarisbawahi masalah limbah laut raksasa nusantara Asia Tenggara.

Ini adalah penyumbang sampah terbesar kedua di dunia setelah China, memproduksi sekitar 1,29 juta metrik ton per tahun.

Operasi pembersihan minggu ini dipusatkan di daerah yang dikenal sebagai Kepulauan Seribu. Sebuah perjalanan sehari yang populer dari ibukota yang tersumbat lalu lintas.

Warga satu pulau telah melaporkan penyu mati di daerah itu, meskipun Yusen Hardiman, kepala departemen lingkungan di kawasan itu. Mengatakan belum jelas apakah itu akibat menelan sampah.

Seekor paus sperma ditemukan mati minggu lalu di sebuah taman laut di lepas pulau Sulawesi dengan 115 gelas plastik dan 25 kantong plastik di perutnya.

Masalah limbah laut Indonesia telah menjadi begitu buruk sehingga para pejabat tahun lalu menyatakan “darurat sampah” setelah hamparan pantai di Bali dibanjiri sampah.

Sebanyak 264 petugas sanitasi terlibat dalam pembersihan yang sedang berlangsung di Kepulauan Seribu. Sementara 13 perahu secara teratur berpatroli di daerah-daerah yang tercekik sampah di kepulauan itu dengan 10 lagi akan ditambahkan ke armada tahun depan.

Sebagian besar sampah yang menyumbat rantai pulau berasal dari tempat lain. Mengalir ke laut dengan menggelembung sungai atau berputar-putar saat musim hujan, kata Hardiman dalam sebuah pernyataan Kamis malam.

Indonesia, sebuah kepulauan lebih dari 17.000 pulau, telah berjanji untuk mengurangi limbah plastik laut sebesar 70 persen pada tahun 2025.

Tetapi infrastruktur pengolahan limbah yang buruk dan kesadaran yang rendah di antara 260 juta penduduknya membuktikan hambatan besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *