KOMPASCOM – Hubungan antara ilmu pengetahuan dan keimanan seseorang untuk menjawab pertanyaan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan memang sukar untuk disatukan, layaknya air dan minyak. Begitu pula pada Stephen Hawking, seorang astrofisikawan asal Inggris yang pemikirannya banyak menjadi sumbangsih untuk dunia sains, khususnya mengenai teori bigbang.
Dilansir Daily Mail pada 16 Oktober 2018, melalui bukunya yang berjudul “Brief Answers To The Big Questions”, ilmuwan yang telah meninggal pada bulan Maret 2018 ini menjabarkan 10 pertanyaan mendasar yang sering digaungkan oleh manusia.
Beberapa di antara pertanyaan itu adalah mengenai keberadaan Tuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya serta kehidupan makhluk pintar lainnya.

Surga diyakini sebagai tempat terakhir bagi para umat beragama yang percaya akan kehadiran Yang Maha Kuasa. Mereka percaya bahwa jika mereka hidup beriman dan taat kepada ajaran agamanya maka mereka akan masuk ke surga di kehidupan lain setelah kematiannya.Namun kepercayaan tersebut ditepis oleh Hawking pada peluncuran bukunya di Science Museum (15/10). Pria yang semasa hidupnya menderita penyakit motor neuron ini menjelaskan melalui rekaman suaranya bahwa jika menggunakan akal sehat dan berpikir secara rasional, kehadiran Tuhan, dan keberadaan surga dipastikan tidak ada.

Kepercayaan Hanya Ke Tuhan Tanpa Ada Surga

Ia mempersilahkan setiap orang untuk menganut apapun yang diyakininya benar, namun berdasarkan padangannya sendiri dan apa yang telah ia tekuni dalam bidang sains, ia menyebut bahwa tidak ada bukti konkret adanya kehidupan setelah kematian.

Menurutnya hal tersebut hanyalah sebuah angan-angan belaka. Ia pun tidak mempercayai kehadiran Tuhan sebagai sosok yang menciptakan alam semesta dan mengatur nasib manusia. Ledakan dahsyat di alam semesta atau bigbang yang terjadi 13,7 miliar tahun lalu diyakininya sebagai penyebab terjadinya planet-planet dan makhluk hidup yang kita kenal seperti saat ini.

Meskipun tidak meyakini akan kehadiran Tuhan, namun ia meyakini adanya kehadiran makhluk lain yang memiliki intelegensi seperti seorang manusia. Ia menyebut bahwa ada banyak sekali kehidupan di luar bumi, misalnya di galaksi lain.

Mantan profesor di Universitas Cambridge ini mengatakan butuh waktu ratusan tahun ketika teknologi kita sudah maju hingga bisa berkomunikasi dengan mereka.
Ia juga menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masa depan. Ia yakin bahwa dalam beberapa ratus tahun ke depan–ketika teknologi sudah berkembang pesat–manusia bisa melakukan penjelajahan ke manapun dalam sistem tata surya.

Di samping itu, manusia patut mewaspadai perkembangan Artificial Intelligence atau AI yang akan berkembang pesat. AI akan sangat pandai dalam mencapai tujuannya dan apabila tujuan tersebut tidak sejalan dengan tujuan kita maka umat manusia akan berada dalam bahaya.

Mengingat banyaknya bencana alam yang terjadi, perubahan iklim yang tidak biasa hingga banyak kejadian lainnya yang disebut-sebut sebagai kiamat, ia menampik hal tersebut. Menurutnya, manusia masih tetap akan bertahan di Bumi meskipun kondisinya sudah sangat berbeda dengan apa yang ada saat ini.

Jenazah Hawking telah dikremasi lalu dikuburkan di Westminster Abbey, London, di mana para ilmuwan terkenal asal Inggris lainnya dimakamkan di sana, seperti Charles Darwin, Sir Isaac Newton, Ernest Rutherford, hingga James Clerk Maxwell.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *